EVAN MAHMOUD

Karya santri

Siapa yang tidak tahu Evan Mahmoud. Seorang jendral angkatan laut termasyhur di negaranya. Sepak terjang dalam kariernya jangan di tanya, hanya sedikit yang dapat menjatuhkannya dalam ajang gulat maupun adu panco. Mungkin bisa di hitung jari. Badannya gagah, besar. Berprinsip baja. Namun ia sadar, ia hanya manusia biasa di mata Allah ta’ala, semua yang ada pada dirinya hanyalah titipan Allah SWT. Ia tidak mau congkak. Padahal sudah banyak negara yang bertekuk lutut di hadapannya. Bahunya yang besar untuk melindungi segenap rakyatnya.

Tetapi, tidak banyak yang tahukalau ia lulusan pesantren. Di pesantren ia di gembleng dengan keras, sangat keras. Ia percaya setiap yang ada di pesantrennyabagian dari edukasi. Ia tidak pernah protes kepada guru yang menghukumnya.

Bahkan, ketika dahulu di pesantren ia pernah di bilang maling oleh gurunya, karena disangka telah merusak tasbih milik gurunya. Padahal bukan ia yang melakukannya, melainkan adik kelasnya. Namun sebagai orang yang paling tua di kamarnya, ia bertanggung jawab atas kerusakan tasbih gurunya. Alhasil, rotan panjang nan perkasa pun bersarang di pahanya. Ia ikhlas, sungguh ikhlas. Tak segan gurunya memukulnya sampai memar. Bukan satu-dua pukulan melainkan dua puluh pukulan. 10 dikanan dan 10 di paha kiri. Ia pun menahan perihnya pukulan rotan. Tetapi, dalam jiwanya ia mengaku salah karena tak mengawasi adik kelasnya.

Pernah juga pada suatu, ia disuruh lari memutar lapangan 20 kali karena telat masuk kelas. Padahal ia sudah izin kepada guru piket yang bertugas. Namun gurunya cukup tegar dalam urusan berdisiplin. Tak memandang pangkatnya/umurnya. Ia pun menerima dengan ikhlas tanpa terbebani sedikitpun. Segera di percepat langkahnya menuju lapangan pesantren, ia pacu langkahnya dan ia patuhi perintah gurunya tersebut. Ia percaya, sesuatu yang tidak membuatmu mati maka akan menjadikanmu kuat. Semboyan itulah yang mengantarkan ia pada cita-citanya kini. Dan kini, peristiwa tersebut telah menjadi sebagian kenangan indah masa lalu.

Dan aku sadar, laut yang garang akan menghasilkan nahkoda yang perkasa.

By Line :

Khairil Muzammar Al-Arif (6 Dirosah Ma’hadiyyah)

bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.