Belajar Dari Rasa Malu

Tausiyah

Entah lupa tahun berapa, saat itu Ma’had al-Muqoddasah sedang punya hajatan wisuda sekolah. Wisuda diadakan di kelas darurat SD al-Muqoddasah yang berhadap-hadapan dengan rerimbun pohon bambu. Setelah para hadirin; Bapak KH. Hasan Abd. Sahal dan Ibu, asatidz/at, walisantri kelas akhir, wisudawan/ti, dan beberapa santri yang diikutkan acara telah memenuhi ruangan. Acara pun dimulai. Ringkas cerita, bapak (Begitu kami diajarkan memanggil beliau –Bpk KH. Hasan Abd Sahal- di al-Muqoddasah) didaulat menyampaikan sambutan.

Setelah berhadapan dengan microphone, bapak memanggil beberapa nama untuk naik ke atas panggung. “Ihsan Ibadurrahman, Yasin Shodiqin, Sayyidil Yusron, Nashir Ahmad…dst” dan di antara nama yang disebut adalah “Shubhan hafidz achmad”, nama saya. (Mohon maaf buat kawan-kawan yang tidak disebut, lupa, tanpa mengurangi rasa hormat). Nama santri disebut kyai itu terasa istimewa. Tapi panggilan kali ini, meski terdengar merdu, bikin panas dingin. Seingat saya nama-nama yang dipanggil adalah santri yang saat itu hafalannya cukup banyak, sekitar belasan. Beberapa nama tersebut ada di barisan para santri yang menghadiri acara. Kalang kabut mereka disergap asatidz yang ingin menangkap dan menaikkannya ke atas panggung. Nama lain yang tidak menghadiri acara, dikejar sampai ke kamar, dicari di balik lemari, bilik kamar mandi, kolong meja, sampe ke pelosok-pelosok ruang yang memungkinkan santri sembunyi. Intruksi yang dipahami  adalah wajib sampe ketemu, karena bapak belum mau mulai sambutan sebelum semua nama yang beliau sebut lengkap di atas panggung. Tegas.

Setelah lengkap semua nama di atas panggung, dengan pakaian alakadarnya sambil duduk tahiyyat, bapak memperkenalkan satu-persatu dengan perolehan jumlah juz yang telah dihafal. Selanjutnya? para santri di atas, diminta melanjutkan ayat. Kita mengenalnya sekarang sambung ayat. Semakin mendebarkan. Khususnya buat yang tidak lancar seperti saya. Ada yang langsung ditanya bapak, ada juga yang ditanya hadirin. Walhasil, Hari itu banyak yang tidak lancar. Malu? Sudah pasti. Tapi beban terbesar ada rasa bersalah telah membuat malu bapak dihadapan para hadirin karena tidak lancar. Setelah sambung ayat selesai, bapak melanjutkan sambutannya. Memecah hening, beliau menyapa anak-anak, “Ada yang lancar, ada yang kurang lancar hafalannya. Kira-kira malu ngga kalo ngga lancar?” semua tertunduk, “Yang lancar hari ini, selamat namun tidak boleh berpuas diri. Dan yang kurang lancar, kalo hari ini kalian merasa malu dan malu itu nggak enak, besok harus lebih banyak nderes dan dilancarkan hafalannya”. Kalimat bijak itu mengalir deras. Lalu satu-persatu dipersilahkan turun. Lamat-lamat terdengar  bapak memohonkan do’a kepada para hadirin untuk kebaikan santri/santriyah al-Muqoddasah.

Bisa jadi, ini acara pertama bapak menguji hafalan santri dihadapan para hadirin. Apa bapak malu lalu kapok menguji anak-anak lagi di hadapan hadirin karena kadang ada saja santrinya yang tidak lancar? Jujur saya belum pernah bertanya langsung. Tapi sepertinya tidak. Karena beberapa kali, saya mengikuti acara yang di dalamnya bapak masih menguji hafalan santri dihadapan hadirin. Beberapa kali itu pula, saya mendengar dan melihat langsung bapak menjelaskan kepada hadirin bahwa santri yang gagap menjawab bukan melulu tidak lancar tapi terkadang grogi. Sehebat apa pun menyiapkan, kalau grogi, ya hafalan sekonyong-konyong berada di luar kepala (Lupa, sampe tidak tersisa di kepala). Ya Allah, itulah, kenapa kami bangga, mengagumimu dan mendo’akanmu, bapak. Karena engkau selalu membesarkan hati kami anak-anakmu. Bahkan di kemudian hari hingga hari ini, “sambung ayat”  justru menjadi tradisi khas al-Muqoddasah, khususnya saat wisuda 30 juz semacam akreditasi hafalan atau pembuktian hafalan calon wisudawan kepada hadirin bahwa mereka layak diwisuda. Sah.

Realita ini menjadi penanda bahwa yang diinginkan bapak adalah santri-santrinya belajar dari rasa malu. Dan beliau konsisten menunjukkan itu. Dengan kebesaran hati, bapak tidak pernah malu saat santrinya tidak lancar diuji hafalannya di depan hadirin. Karena sejatinya, beliau tidak bermaksud mempermalukan atau menjatuhkan namun mendidik santri/yah al-Muqoddasah belajar dari rasa malu untuk menjadi lebih baik lagi. Jadi belajar dari rasa malu merupakan metode pendidikan a la bapak supaya santri lebih bertanggungjwab terhadap hafalannya. Memang kadang perlu menggunakan cara yang berbeda supaya lebih “ngena”. Seorang murid yang terlihat diam saat guru mengajar belum tentu dia sedang khusyu’ menyimak.  Bisa jadi alam pikirnya sedang melanglang buana entah ke mana. Perlu sedikit “gebrak meja” supaya konsentrasinya kembali kepada apa yang sedang disampaikan gurunya.

Jadi, yo dulur-dulur, kita mulai belajar melihat “malu” dari sisi yang lebih positif supaya bisa ambil manfaat. Seperti pesen bapak, kalau hafalan nggak lancar dan itu bikin kita malu. Merasa malu aja nggak cukup. Yang terpenting belajar dari rasa malu tersebut. Kalau malu itu nggak enak rasanya, berarti harus lebih sering nderes, muroja’ah supaya hafalannya mutqin. Bonusnya, kalo ada sambung ayat dadakan bisa lebih siap dan lancar. Kalau hafalan lancar, siapa yang seneng?? Ushiikum wa iyya

bagikan artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.